Hujan Picu Letusan Sekunder Aktivitas Semeru Masih Tinggi PVMBG Pertahankan Status Level IV

Lumajang (Tirtanetwork.com) – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali memasuki fase kritis. Meski letusan besar terjadi dua hari sebelumnya, tekanan di tubuh gunung api tertinggi di Jawa itu ternyata belum menurun. Bahkan, hujan deras pada Jumat (21/11/2025) sore memicu letusan sekunder yang menghasilkan aliran lahar dingin ke sejumlah wilayah hilir.

Fenomena lahar dingin itu langsung terekam warga melalui video amatir. Asap tebal tampak membumbung dari jalur aliran lahar ketika air hujan menggerus tumpukan material vulkanik yang masih menyimpan panas sisa erupsi Rabu lalu. Aliran lahar juga terlihat membawa material panas, batu besar, dan abu vulkanik di Sungai Kajar Kuning, Besuk Kobokan, hingga kawasan Gladak Perak.

Dari laporan Pos Pantau Curah Kobokan, intensitas aliran lahar mencapai amplitudo 43 mm. Karena aliran tersebut masih membawa suhu tinggi, petugas meminta warga menjauhi bantaran sungai dan tidak melakukan aktivitas apa pun di sekitar jalur lahar.

Di sisi lain, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan bahwa aktivitas vulkanik Semeru tetap tinggi. Data seismik menunjukkan bahwa tekanan di dekat permukaan meningkat sejak pertengahan Oktober, terlihat dari tren penurunan dv/v pada ambient noise.

Tekanan yang terus bertambah itu membuat status Semeru tidak mengalami perubahan. PVMBG menegaskan Level IV (Awas) masih perlu dipertahankan karena suplai magma dan pelepasan material vulkanik tetap berlangsung.

Letusan besar pada Rabu (19/11/2025) menjadi puncak aktivitas terbaru Semeru. Pada pukul 14.13 WIB, gunung itu memuntahkan Awan Panas Guguran (APG) sejauh 13,8 kilometer ke arah Besuk Kobokan, dengan amplitudo 47 mm dan durasi gempa lebih dari empat jam. Akibat peningkatan beruntun tersebut, status gunung dinaikkan dari Level III menjadi Level IV pada pukul 17.00 WIB.

Pada 20–21 November, Semeru terus mengeluarkan letusan dan hembusan asap kawah putih hingga kelabu setinggi 300–1.000 meter. Enam letusan terjadi pada Kamis (20/11), disusul dua letusan baru pada Jumat dini hari. Namun, hujan lebat membuat visual awan panas sulit teramati langsung.

Hingga Jumat siang, alat pemantau mencatat 215 gempa letusan, 1 gempa awan panas, 71 gempa guguran, 23 gempa hembusan, 2 gempa vulkanik dalam, 8 gempa tektonik jauh dan1 getaran banjir.

Meski begitu, tiltmeter dan GPS menunjukkan kondisi deformasi tubuh gunung relatif stabil sehingga belum terlihat adanya dorongan magma besar dari dalam. Namun, suplai magma yang berjalan terus membuat potensi letusan susulan tetap tinggi.

PVMBG kembali mengeluarkan peringatan untuk masyarakat:

1. Tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 20 km dari puncak.
2. Di luar sektor tersebut, warga tetap dilarang mendekat 500 meter dari sempadan sungai karena potensi lahar.
3. Radius 8 km dari kawah utama harus steril dari aktivitas manusia untuk menghindari lontaran batu pijar.
4. Pemantauan resmi tersedia di situs Badan Geologi dan aplikasi Magma Indonesia.

Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan aktivitas vulkanik yang belum menunjukkan tanda-tanda melemah, warga di kawasan rawan diminta terus meningkatkan kewaspadaan. Petugas juga mengingatkan masyarakat agar mengikuti seluruh arahan di lapangan karena perubahan kondisi Semeru bisa terjadi secara mendadak.

LATEST NEWSLUMAJANGPERISTIWA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *