Batik in Motion 2026 Antar Kota Probolinggo Pecahkan Rekor MURI
Probolinggo (Tirtanetwork.com) – Kota Probolinggo kembali mencuri perhatian melalui pergelaran budaya berskala besar. Ribuan penari mengenakan busana batik khas daerah tampil serempak dalam ajang Batik in Motion 2026.
Perhelatan akbar tersebut sukses mengantarkan Kota Probolinggo mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam pagelaran kolosan line dance mengenakan pakaian Batik dengan peserta terbanyak di dunia 2.705 Penari.

Pemecahan rekor tersebut menjadi salah satu rangkaian istimewa peringatan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menyambut Hari Batik Nasional 2026 dengan cara yang lebih kreatif dan melibatkan masyarakat secara langsung.
Area depan Kantor Wali Kota Probolinggo menjadi pusat berlangsungnya perhelatan budaya tersebut. Ribuan penari dari berbagai kalangan ikut ambil bagian dalam pertunjukan tari kolosal ini. Mulai dari pelajar, warga hingga pegiat seni lokal, mereka bergerak kompak dalam satu koreografi sambil menampilkan ragam motif batik yang menjadi identitas budaya daerah.
Melalui penampilan itu, batik tidak hanya hadir sebagai kain tradisional. Sebaliknya, batik tampil sebagai bagian dari pertunjukan modern yang mampu menarik perhatian masyarakat lintas generasi.
Ajang bertajuk “Tradition in Rhythm, Culture in Movement” ini digelar selama tiga hari, mulai 4 hingga 6 September 2026.

Batik in Motion 2026 pun tidak sekadar mengejar pencapaian rekor MURI. Pemerintah dan pelaku seni memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat upaya pelestarian budaya sekaligus mengenalkan potensi batik lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Di sisi lain, pergelaran ini juga membuka ruang promosi bagi para perajin dan pelaku ekonomi kreatif. Kehadiran ribuan peserta serta masyarakat yang datang menyaksikan acara diharapkan mampu memberi dampak positif terhadap geliat ekonomi lokal.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Probolinggo, dr Evariani Aminuddin, mengatakan pelibatan generasi muda menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan batik di masa mendatang.
Menurut Evariani, saat ini masih terdapat kesenjangan yang cukup jauh antara generasi pembatik senior dengan generasi muda. Karena itu, Batik in Motion diarahkan menjadi wadah untuk memperkenalkan batik sejak usia sekolah.
“Harapannya batik ini bisa dikenal di seluruh lapisan masyarakat. Makanya mulai dari anak-anak, dari tingkat SD sampai SMA, bagaimana mereka mengetahui desain kostum dan fashion,” ujarnya.
Dengan menggabungkan seni tari, busana batik, dan pertunjukan kolosal, Kota Probolinggo mencoba menghadirkan wajah baru pelestarian budaya. Tradisi tidak hanya disimpan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dikemas menjadi atraksi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Keberhasilan mencatatkan rekor MURI tersebut sekaligus menjadi bukti tingginya antusiasme masyarakat dalam menjaga identitas budaya daerah. Ribuan penari yang tampil bersama menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat tumbuh melalui kolaborasi berbagai generasi.
Melalui Batik in Motion 2026, Kota Probolinggo kini membawa pesan yang lebih besar. Batik bukan hanya warisan budaya yang dikenakan dalam kegiatan seremonial, melainkan juga kekuatan kreatif yang dapat menggerakkan seni, pariwisata, hingga ekonomi masyarakat.
Di usia ke-667 tahun, Kota Probolinggo pun memilih merayakan perjalanan sejarahnya dengan langkah yang penuh warna. Dari ribuan gerakan penari hingga lembaran kain batik yang dikenakan, pergelaran ini menjadi panggung bersama untuk membawa budaya lokal menuju perhatian yang lebih luas.

