Mafindo Perluas Pengaruh Global, Literasi Digital Masuk Kurikulum Nasional
Surabaya (Tirtanetwork.com) – Masyarakat Anti Fitnah Indonesia terus mempertegas perannya sebagai motor penggerak literasi digital, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga mulai menembus panggung global. Melalui forum Silaturahmi Nasional (Silatnas) ke-3 Mafindo, organisasi ini merumuskan arah baru untuk memperkuat ketahanan informasi masyarakat di era digital.
Kegiatan yang digelar di Novotel Samator Surabaya itu berlangsung selama tiga hari, 24–26 April 2026. Selain itu, forum ini dihadiri pendiri, presidium, dewan pengawas, dewan etik, hingga perwakilan dari 44 koordinator wilayah se-Indonesia.
Mengusung tema “Transformasi Mafindo: Menguatkan Akar, Melebarkan Dampak untuk Ketahanan Digital Masyarakat”, Silatnas menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus memperluas peran organisasi.
Ketua Presidium periode 2022–2025, Septiaji Eko Nugroho, menegaskan bahwa Mafindo telah mencatat sejumlah capaian strategis. Salah satunya, keberhasilan mendorong literasi digital masuk ke dalam kurikulum nasional.
Menurutnya, sejak 2022 Mafindo dipercaya ikut menyusun penguatan literasi digital yang kini terintegrasi dalam mata pelajaran Informatika. Kebijakan ini pun telah menjangkau sekitar 60 ribu sekolah di seluruh Indonesia.
Tidak berhenti di situ, Mafindo juga menyusun modul pembelajaran yang bisa langsung digunakan guru di kelas. Dengan demikian, proses edukasi literasi digital menjadi lebih sistematis dan berkelanjutan.
Selain itu, seiring pesatnya perkembangan teknologi, Mafindo mulai terlibat dalam pengembangan kurikulum berbasis kecerdasan buatan (AI). Organisasi ini turut mengidentifikasi risiko digital sekaligus merumuskan langkah mitigasi yang relevan.
Di sisi kebijakan, Mafindo aktif menyusun naskah akademik serta memberikan masukan terhadap berbagai regulasi digital. Bahkan, organisasi ini juga terlibat dalam koalisi masyarakat sipil untuk mengawal isu strategis, mulai dari moderasi konten hingga perlindungan ruang informasi publik.
Menariknya, langkah Mafindo tidak hanya berhenti di dalam negeri. Organisasi ini kini memperluas jejaring ke tingkat regional Asia Pasifik hingga global. Fokusnya antara lain perlindungan pekerja migran dari paparan misinformasi.
Ke depan, Mafindo bahkan mendorong terbentuknya forum kolaborasi lintas negara. Forum ini diharapkan mampu mempertemukan pemeriksa fakta, media, dan pegiat literasi digital untuk berbagi strategi menghadapi disinformasi.
Di sisi lain, kolaborasi dengan platform digital juga terus diperkuat. Salah satunya melalui kerja sama dengan TikTok guna memperluas jangkauan edukasi publik berbasis isu terkini.
Sementara itu, Ketua Organizing Committee Silatnas ke-3, Cahya Suryani, menyebut pelaksanaan kegiatan berjalan lancar tanpa kendala berarti. Meski begitu, dinamika diskusi yang cukup hangat justru memperkaya hasil forum.
Ia menilai energi kolaborasi yang terbangun selama Silatnas menjadi kekuatan penting bagi seluruh anggota Mafindo saat kembali ke daerah masing-masing.
“Perjuangan melawan hoaks, fitnah, dan scam digital memang tidak mudah. Namun, semua relawan tidak berjalan sendiri karena ada kekuatan bersama yang terus saling menguatkan,” ujarnya.
Melalui Silatnas ini, Mafindo menegaskan posisinya sebagai organisasi independen yang mampu berkolaborasi sekaligus tetap kritis terhadap kebijakan. Dengan pendekatan kolaboratif, Mafindo optimistis mampu menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat dan berdaya tahan di tengah derasnya arus digital.

