SDN Warujinggo 2 Probolinggo Dua Tahun Tanpa Siswa Baru
Probolinggo (Tirtanetwork.com) – SDN Warujinggo 2 yang terletak di Dusun Triwung, Desa Warujinggo, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengalami krisis murid. Selama dua tahun berturut-turut, sekolah dasar negeri ini tidak menerima satu pun peserta didik baru.
Sejak tahun ajaran 2024, tak ada lagi suara tawa atau semangat belajar anak-anak terdengar dari ruang kelas. Suasana lengang menyelimuti lingkungan sekolah yang dulunya menjadi tempat belajar puluhan siswa.
Kini, ruang kelas 1 dan 2 dibiarkan kosong karena tidak ada murid yang mendaftar. Pihak sekolah menyebut beberapa faktor sebagai penyebab utama rendahnya minat masyarakat. Salah satunya, keberadaan sejumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di sekitar lokasi sekolah yang menjadi pilihan utama para orang tua.
Di sisi lain, lokasi SDN Warujinggo 2 yang berdekatan dengan wilayah Kota Probolinggo juga membuat banyak warga memilih menyekolahkan anak mereka ke sekolah-sekolah negeri di kota, yang dianggap memiliki kualitas pendidikan lebih baik. Meski demikian, para guru tidak tinggal diam.
Mereka telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan jumlah pendaftar. Di antaranya dengan sosialisasi langsung ke masyarakat sekitar, kunjungan dari rumah ke rumah (door to door), hingga menyediakan seragam gratis bagi calon siswa baru.
Sayangnya, semua langkah tersebut belum membuahkan hasil. Krisis murid di SDN Warujinggo 2 sebenarnya sudah terjadi sejak lama.
Menurut data pihak sekolah, penurunan jumlah siswa sudah terlihat sejak 2012. Saat ini, total siswa yang aktif hanya berjumlah 15 orang, tersebar di tiga kelas.
Rinciannya, 6 siswa di kelas 3, 5 siswa di kelas 5, dan 4 siswa di kelas 6.Meski jumlah siswa kian menyusut, kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan. Lima tenaga pengajar yang terdiri dari guru kelas, guru agama, serta kepala sekolah, masih berkomitmen memberikan pendidikan terbaik bagi siswa yang tersisa.
Kepala SDN Warujinggo 2, Indrati Susilo, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi sekolah. Ia berharap ada intervensi dari dinas terkait untuk menyelamatkan sekolah dari ancaman penutupan.
Menurutnya, kompleksitas persoalan yang dihadapi butuh solusi menyeluruh, mulai dari promosi pendidikan yang merata hingga peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri.
“Persoalan di sekolah ini komplek, sekolah ini dikelilingi sejumlah Madrahsah Ibtidaiyah, dan lokasi ini berdekatan dengan wilayah kota.” terang Indrati.
Jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin SDN Warujinggo 2 akan kehilangan fungsinya sebagai lembaga pendidikan dasar di wilayah tersebut.(qq)

